Jakarta - Bulutangkis Indonesia sekali lagi dipimpin
oleh manajer handal dari kalangan pebisnis dengan terpilihnya Menteri
Perdagangan Gita Wirjawan sebagai ketua umum untuk periode tahun
2012-2016.
Sebelumnya, Chairul Tanjung, seorang pengusaha handal,
juga pernah menjadi komandan induk organisasi olahraga yang paling
sering mengharumkan nama Indonesia di tingkat dunia tersebut untuk
periode tahun 2000-20004.
Chairul saat itu menunjukkan
kemampuannya antara lain saat membuat keputusan sangat besar, yaitu
"mengalah" pada "kenakalan" Taufik Hidayat, dan memburu Taufik yang di
akhir tahun 2001 dan awal 2002 ingin pindah ke Singapura. Chairul
berhasil membujuk si
Bad Boy yang juga
Golden Boy itu
ntuk kembali ke pelatnas. Hasilnya: Taufik mengharumkan nama Indonesia
dengan menjadi juara Olimpiade 2004, juara dunia 2005, kampiun Asian
Games 2006 dan sederet gelar lainnya.
Chairul akhirnya secara
ksatria mengundurkan diri dari jabatan ketua umum PBSI sebagai
konsekuensi dari kegagalan tim bulutangkis Indonesia mempertahankan
Piala Thomas 2004, walaupun sebelumnya berhasil mempertahankan Piala
Thomas di tahun 2002. Sejak saat itu Indonesia belum pernah mendapatkan
kembali Piala Thomas, tetapi belum pernah ada ketua umum PBSI yang
meletakkan jabatannya karena kegagalan memenangi piala beregu paling
bergengi di olahraga ini.
Tidak seperti masa Chairul Tanjung yang
mewarisi pemain-pemain handal seperti Taufik, Sony Dwi Kuncoro,
Hendrawan, Marleve Mainaky, Sigit Budiarto, Chandra Wijaya, Halim
Haryanto, Trikus Haryanto, Nova Widianto dan tradisi emas bulutangkis
Indonesia, Gita Wirjawan mewarisi kondisi terburuk dalam sejarah
prestasi bulutangkis Indonesia. Jangankan medali emas olimpiade (2012)
yang selalu menjadi tradisi kontingen Indonesia, medali perunggu pun
tidak dapat.
Obat dari keterpurukan bulutangkis Indonesia saat
ini adalah manajer yang handal, yang mampu membuat perencanaan yang
matang dan berani mengambil keputusan yang inovatif. Hal ini menurut
saya dimiliki oleh ketua umum PBSI yang baru. Yang menjadi syarat
lainnya adalah sang ketua umum harus mencintai bulutangkis dan mau
berkorban. Inilah yang akan dituntut dari Gita dari para penggemar
olahraga tepok bulu angsa di Indonesia.
Meskipun mewarisi kondisi
bulutangkis Indonesia yang mengalami penurunan selama beberapa tahun
terakhir, tetapi Gita tetapmewarisi bakat-bakat bulutangkis yang mulai
menunjukkan kualitasnya dan siap untuk menggantikan pemain-pemain lama,
terutama bakat-bakat di nomor ganda, baik ganda putra, ganda putri ganda
campuran.
Apresiasi harus diberikan antara lain kepada PB Djarum yang secara
reguler mengadakan Sirkuit Nasional, sehingga bibit-bibit bulutangkis
Indonesia mempunyai sarana untuk mengasah kemampuan dan mental dalam
iklim kompetisi yang sangat ketat. PB Djarum juga secara reguler
mengirimkan pemain-pemain juniornya untuk berlaga di kompetisi
internasional.
Saat ini bibit-bibit muda Indonesia mulai
menunjukkan tajinya di dunia internasional, antara lain dengan meraih
gelar ganda campuran Kejuaraan Dunia Yunior 2011 melalui Gloria
Emmanuelle Widjaja/Alfian Eko Prasetyo, yang di final mengalahkan sesama
pemain Indonesia, Ronald Alexander/Tiara Rosalia Nuraidah. Di event
tersebut Indonesia juga menempatkan dua finalis lainnya, yaitu di nomor
tunggal putri dan ganda putri walaupun mereka akhirnya kalah di final.
Sebelumnya,
pemain yunior Indonesia juga meraih dua gelar dalam Kejuaraan Asia 2011
melalui Lukhi Apri Nugroho/Ririn Amelia di nomor ganda campuran, serta
Suci Rizki Andini/Tiara Rosalia Nuraidah di ganda putri. Pada Kejuaraan
Asia tahun 2012, Indonesia kembali mendapatkan gelar melalui pasangan
ganda putra Edi Subaktiar/Arya Maulana Aldiartama.
Di tingkat
senior, para pemain baru juga mulai berkembang di tahun 2012 ini,
terutama untuk pemain ganda. Berdasarkan ranking yang dikeluarkan BWF
per 20 September 2012, pemain-pemain "baru" Indonesia mulai menapaki
peringkat 32 besar dunia, sehingga memungkinkan mereka untuk tampil di
kejuaraan setingkat Super Series.
Di nomor ganda putra, selain
Angga Pratama/Ryan Agung Saputro di peringkat 22 dunia, masih ada
pasangan Ricky Karanda Suwardi/Muhammad Ulinnuha (31), Markus Fernaldi
Gideon/Agripinna Prima Rahmanto Putra (32), dan Andrei
Adistia/Christopher Rusdianto (39). Mereka akan didukung oleh pasangan
baru muka lama seperti Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan, Markis
Kido/Alvent Yulianto Chandra, Hendra Aprida Gunawan/Yonathan Suryatama
Dasuki, dan Bona Septano dengan pasangan barunya.
Di nomor ganda
putri, para pemain baru yang mulai menanjak adalah Nitya Krishinda
Maheswari/Anneke Feinya Agustin (peringkat 18 dunia), dan Della Destiara
Haris/Suci Rizki Andini (peringkat 39 dunia). Di bawah mereka masih ada
pasangan Gebby Ristiyani Imawan/Tiara Rosalia Nuraidah (peringkat 48
dunia).
Di nomor ganda campuran yang merupakan nomor andalan
Indonesia saat ini, di samping pasangan senior Lilyana Natsir/Tontowi
Ahmad (peringkat 4 dunia), Muhammad Rijal/Debby Susanto (peringkat 19)
dan Frans Kurniawan/Shendy Puspa Irawati (peringkat 24), pemain-pemain
baru juga mulai menunjukkan prestasi mereka seperti pasangan Irfan
Fadhilah/Weni Anggraini (peringkat 29) dan Riky Widianto/Puspita Richi
Dili (peringkat 36). Di bawah mereka, pasangan juara dunia junior 2011,
Alfian Eko Prasetyo/Gloria Emmanuelle Widjaja juga mulai merangkak naik
dan sekarang berada pada peringkat 92 dunia.
Di nomor tunggal putra dan putri, para pemain Indonesia masih
mengandalkan pemain senior, sedangkan para pemain muda masih kedodoran
dalam kompetisi internasional, bahkan mereka sulit bersaing dengan
pemain yunior dari Thailand, India dan Jepang. Meskipun demikian, para
pemain muda Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Hanya saja
penanganan mereka belum maksimal.
Para muka baru baik di nomor
ganda maupun tunggal merupakan pemain-pemain muda usia yang masih
mempunyai jalan panjang dalam meretas karier di tingkat dunia, sehingga
penanganan yang profesional dan kompetisi yang reguler dapat membentuk
mereka menjadi andalan Indonesia di masa yang akan datang. Di samping
itu, pembinaan terhadap pemain mudah yang terus menunjukkan prestasi
menggembirakan juga tidak boleh dilupakan.
Dengan potensi yang
ada, maka ketua umum PBSI baru harus memprioritaskan para muka baru
dengan penanganan baru yang lebih profesional sehingga mereka dapat
berkembang secara maksimal. Sebagai perencana dan pengambil keputusan
yang handal, ketua PBSI harus membuktikan bahwa tidak hanya di bidang
ekonomi, tetapi manajemen yang baik juga akan membawa bulutangkis
Indonesia untuk kembali Berjaya di dunia.
Gita Wirjawan telah
menyatakan komitmennya untuk memperbaiki sistem dan profesionalitas dan
pendanaan bulutangkis Indonesia, termasuk di antara permasalahan gaji
bagi pelatih dan pemain. Dengan jaringan relasi yang luas, maka Gita
diharapkan dapat mencarikan dana segar bagi pengiriman para pemain
Indonesia ke berbagai pertandingan internasional secara reguler sehingga
pemain Indonesia akan mempunyai jam terbang dan suasana yang
kompetitif, yang apabila dipadukan dengan pengelolaan yang profesional,
akan meningkatkan prestasi mereka.
Sekali lagi, bulutangkis
Indonesia dengan ketua umum yang baru, pemain-pemain baru, pengelolaan
baru yang lebih profesional, semoga akan melahirkan prestasi baru.
Bagi
para pencinta bulutangkis Indonesia, dukungan dan masukan secara
positif terhadap PBSI harus terus diberikan untuk kebanggaan kita dan
kebanggaan Indonesia.
(4.5.15/19.57)