Jakarta -Hari Lingkungan Hidup se-dunia yang jatuh pada
5 Juni 2009 jadi momentum tepat bagi kami untuk menjajal Toyota Prius
Hybrid generasi ke-2.
Mobil andalan Toyota ini berkarakter ramah lingkungan cocok dengan kampanye ramah lingkungan.
Sekalian redaksi detikcom menggelar
Outing ke Pantai Anyer, kami pun mencoba membuktikan kehandalan mobil Toyota Prius di jalur tersebut.
Kita awali dengan melihat tampilan luar Toyota Prius. Penampilan Prius yang aerodinamis tergolong
eye-catching bila disejajarkan dengan mobil liftback lainnya.
Apalagi,
bodi mobil yang pajak tahunannya mencapai Rp 4,568 juta ini hampir
menyerupai bentuk sedan. Ini sangat cocok dipadukan dengan velg
berukuran 16 inci dan dibalut dengan ban Turanza.
Sisi lain,
bumper depan yang agak menurun dengan garis grille sedikit melancip
mengentalkan jika Prius tidak seperti mobil lainnya yang berbahan bakar
bensin.
Ditambah lagi posisi buritan yang agak sedikit berotot setelah penambahan lampu stop yang memenuhi tampilan belakang.
Beralih ke kabin penumpang. Beberapa saat melirik kedalam, detikOto
tidak melihat barang istimewa pada interior Toyota Prius. Terlihat biasa
saja bak mobil Jepang lainnya yang dibanderol berkisar Rp 250 juta
sampai Rp 350 juta.
Sebut saja power window, power stering,
console box, sound audio dan layar touchscreen yang terintegrasi dengan
apik pada kabin Toyota Prius. Selain itu, pengatur suara audio dan AC
yang tersemat rapih pada kemudi Toyota Prius.
Kami menilai pada kabin mobil yang terkenal dengan ramah lingkungan tersebut ya boleh dibilang masih biasa-biasa saja.
Tanpa
menunggu lama, langsung saja mobil dinyalakan. Caranya agak berbeda
dengan mobil konvesional. Masukkan dulu smart keynya, kemudian pijit
tombol power sambil menahan pedal rem.
Pedal rem harus dipijak
setiap kali menekan tombol power. Karena jika tidak begitu, tuas
transmisi otomatis selalu susah berpindah dari P (Parking) ke D (Drive)
atau ke R (Reverse).
Begitu tombol power dinyalakan, bagi yang
belum terbiasa dengan mobil listrik pasti kebingungan, ini mobil
mesinnya sudah menyala atau belum ya?
Jangan kelimpungan, pada saat start awal, mesin Prius tidak bersuara karena masih menggunakan mesin bertenaga listriknya.
Mesin tenaga BBM baru menyala ketika Prius melaju sekitar 15 km/ jam atau ketika baterai di mesin listrik hampir habis.
Setelah beberapa saat memperhatikan secara detail pada posisi dashboard mobil, tepatnya pada layar touchscreen.
Ternyata,
terlihat jelas gambar pergerakan roda mobil, dari layar touchscreen
itu, dan terlihat sumber tenaga penggerak roda yang berasal dari mesin
dan motor listrik.
Pertama di gas, terlihat kecepatan 0- 15 km
per jam penggerak roda berasal dari listrik, tetapi setelah kecepatan 15
km per jam terlihat bisa salah satu yang hidup atau berbarengan.
Kesimpulan
pertama, wajar jika mobil tersebut sangat irit bahan bakar, apalagi di
tengah kondisi jalanan yang macet. Umumnya kondisi jalan yang macet,
average kecepatan mobil berkisar 0 - 20 km per jam.
Dan dalam
kondisi ini, Toyota Prius Hybrid sangat ideal karena dalam kecepatan
tersebut, Prius hanya menggunakan tenaga listriknya untuk menggerakan
roda depan, sehingga mesin berbahan bakar Pertamaxnya jadi nganggur.
Gas
pun langsung dibejek menuju Pantai Anyer, Banten. Kala itu detikOto
menempuh perjalanan malam hari melewati jalur tol Bintaro menuju
Tangerang hingga tembus tol Jakarta-Merak.
Bangku penumpang
belakang terisi penuh, dan ditambah beban di bagasi. Perjalanan pun
lancar tanpa mendapati masalah apapun dengan Toyota Prius.
Akselerasi mesin Prius cukup mumpuni, baik itu jalan mendatar atau
menanjak, kami tidak melihat masalah pada akselerasi Prius. Begitu gas
ditekan dalam-dalam, Prius langsung ngibrit meski agak terasa pada
awalnya, roda-roda Prius sedikit menahan laju mobil.
Di jalan tol
yang lurus tak terasa kecepatan mobil sudah mencapai 150 km/jam. Namun
Prius masih nyaman dipegang handling pun mantap, kami pun hampir tak
menyadari kalau kecepatan kami sudah mencapai 150 km/jam. Biar selamat
sampai tujuan, kecepatan mobil hybrid ini pun kami kurangi.
Sesampainya di Anyer, tercatat Prius menempuh perjalanan sepanjang 135 km.
Dengan
rata-rata pada kecepatan 100 km/jam dengan konsumsi bahan bakar cukup
irit, tercatat konsumsi BBM hanya 11 liter. Masih boros memang,
berhubung seringnya pedal gas dibejek dalam-dalam.
Mesin BBM masih menjadi tenaga utama, sesekali, motor elektrik akan membantu menggerakkan mobil.
Tak
jarang, motor elektrik pun menjadi penggerak pada kecepatan tinggi,
tetapi sesekali dan berlangsung tidak lama, hanya 1 - 2 detik.
Mesin BBM selalu menyuplai motor elektrik. Di kala tenaga mesin hidup maka disitulah baterai dicharge.
Waktunya pulang ke Jakarta pun tiba, waktu itu Minggu siang (7/6/09).
Prius menempuh perjalanan tol Jakarta Merak, langsung menuju jalan tol
dalam kota hingga tembus di Warung Buncit tepatnya kantor kami.
Perjalanan pulang kali ini cukup panjang. Tercatat Prius menempuh perjalanan 140 km.
Dengan
cuaca yang panas, dan berat beban yang hampir sama sewaktu perjalanan
pergi, kami mendapati konsumsi BBM pada Prius sekitar 12 liter. Sedikit
lebih banyak dibandingkan pada waktu malam hari. Rata-rata kecepatan pun
sama yaitu 100 km per jam.
Konsumsi Pertamax itu didapat jika mesin dipaksa mengeluarkan kemampuan maksimalnya dalam kondisi ekstrem.
Namun
jika dalam keadaan melaju di dalam kota Jakarta, dengan kecepatan
maksimal 80 km/jam di dalam kota, sesuai data konsumsi Pertamax di
touchscreen kami menemukan konsumsi Pertamax 6,2 liter untuk 100 km atau
sekitar 1 liter untuk 16,67 km, bahkan mencapai 5,6 liter untuk 100 km
(1 liter untuk 17,8 km) jika kami mengurangi kecepatan maksimal hingga
60 km/jam..
Jadi intinya, jika di dalam kota, dengan kondisi
macet seperti di Indonesia, Prius akan sangat hemat bensin karena sering
menggunakan mesin listriknya.
Oh iya satu hal lagi, jika Anda
mengemudikan Prius di jalan-jalan perumahan, ketika menemui belokan
jangan lupa sering-sering klakson.
Prius yang tidak terdengar suaranya ini ketika berjalan pelan, sering bikin kaget pengendara yang lainnya.
Secara keseluruhan, jika Anda
techno freak atau yang sangat
concern dengan masalah lingkungan, hybrid ini bisa jadi pilihan Anda.
Karena selain bahan bakar yang sangat efisien, mobil liftback dari Toyota sangat ramah lingkungan dan berteknologi tinggi.
Simak Berita Jam 19.00 Malam :
- Dalam Setahun Nissan Jual 40.000 Mobil di Indonesia
- Nissan Lannia Tidak Untuk Indonesia
- Dari Game, Nissan Ingin Lahirkan Pembalap Professional
- Toyota Tidak Mempasok Prius Lagi
- Toyota Prius Lebih Besar dan Irit dari Generasi Kedua